Skip to main content

Misteri Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah (Naskah Melayu Tertua), Bukti telah Masuknya Islam di Kerinci

oleh Hafiful Hadi S
Sebelumnya Artikel ini Berjudul  "Misteri Kedangan Islam di kerinci"

Adapun tulisan ini dibuat sebagai  perbaikan Artikel sebelumnya yang berjudul " Sekilas Sejarah perkembangan Islam di Kerinci " - disarankan bagi anda membacanya terlebih dahulu-
(Dalam artikel tersebut saya menyebut bahwa Kerinci merupakan wilayah paling Akhir di sumatera yang menerima ajaran Islam sekitar abad 15 - 17 M. hal tersebut dilihat dari sisi Spritual masyarakat kerinci dimana sebagai penganut Islam yang taat tetapi masih mempertahankan tradisi nenek moyang.)
Bahwa keterangan diatas agaknya perlu saya ralat disebabkan beberapa bukti terbaru yang saya temukan. saya membagi dua periode kedatangan Islam di kerinci, periode pertama pada abad 12-13 M dimana Islam yang berkembang lebih bersifat mistik seperti Aliran Islam yang berkembang di Persia dan India dengan pembuktian yang terdapat dalam naskah Undang Undang Tanjung Tanah yang dibuat abad 13 M sezaman dengan kerajaan Dharmasraya. periode Kedua, pada abad 15- 17 M Islam dibawa oleh pendakwah dari Minangkabau, Aceh dan Jambi seperti dalam keterangan sebelumnya.

II. Periode kedatangan Islam  pertama sekitar abad 12 M

Bukti dari telah adanya Agama Islam di Kerinci pada abad 13 M adalah Naskah Undang2 Tanjung Tanah (UUTT). Naskah UUTT berasal dari  Dharmasraya yang diberikan untuk Depati-Depati di Bumi Kerinci guna Menetapkan Hukum didaerah tersebut. 
UU tj Tanah dibuat sekitar abad 13 M bertulis aksara pasca Pallawa (dari Halaman pertama Hingga Halaman 32) dan bertulis Aksara Incung pada halaman 33 dan 34 . Fakta-fakta Menarik yang ditemukan dalam Naskah tersebut adalah sebagai Berikut :

A. Dilihat dari Isi naskah halaman pertama dan beberapa halaman lainnya jelas sekali bahwa maharaja Dharmasraya merupakan seorang Penganut Budha.
berikut isi Halaman 30 dan 31 yang membuktikan bahwa maharaja Dharmasraya Penganut Budha
halaman 30


mmasraya //&//..// barang salah
silitnya, suwasta olih sidang ma-
hatmya samapta //&//
pranamya diwang cri samaleswarang
aum // pranamya cri sadiwam, trelu-
kyadipati stutim, nanadattru (?)\


halaman 31


dretang waki tnitri satrasamuksaya
m//..// // pranammya
nama, tunduk manyambah, sirsa na(ma) ka-
pala, diwa nama diwata, tre nama su-
rga damYa pratala, dipati nama la-
bih dreri pada sakalliyan
nama nama banyak, dretang na-



bisa dilihat kata kunci isi naskah halaman 31 memuat Istilah Diwata, tre nama surga dam ya pratala dsb merupakan Istilah istilah Agama Budha.


B. Naskah ditulis oleh Kuja Ali dipati dan Kuja Ali dipati di utus Ke Bumi Kerinci sebagai utusan Dharmasraya sebagaimana isi naskah ke 29



nyatnya titah maharaja dra
mmasaraya // yatnya yatna sidang ma-
hatmya sa-isi bumi kurinci
si lunju kurinci // sasta li-
kitang kuja ali dipati di-
waseban di bumi palimbang di ha…
dappan paduka ari maharaja dra-

dalam halaman tersebut disebutkan bahwa maharaja Dharmasraya Mengutus seseorang yang bernama Kuja Ali Dipati untuk mewakili Raja Menetapkan Hukum di Bumi Kerinci. Siapakah Kuja Ali ini? Kuja Ali atau Khoja Ali bukanlah nama yang biasa di pakai oleh Penduduk Nusantara apalagi di Dharmasraya yang penganut Budha. besar kemungkinan Khoja Ali berasal dari Persia atau India sebab nama seperti ini Lazim digunakan didaerah tersebut terutama yang beraliran Syiah atau penganut Islam. Khuja ali merupakan orang kepercayaan Maharaja Dharmasrya dan Juga sebagai pendakwah. kenapa Maharaja Dharmasraya mengutus seorang Muslim ke Bumi kerinci untuk menetapkan Hukum bukan Pendeta Budha atau sebagainya?
pertanyaan ini dijawab dengan beberapa alasan
1. Sebab masyarakat Kerinci abad 12 M sudah menganut Ajaran Islam yang dibawa oleh Mubalik dari negeri persia dan India 
2. perutusan Khuja Ali merupakan strategi  dari Dharmasraya untuk menjalin Hubungan Antara Dharmasraya dan Kerinci serta  strategi untuk memasukkan kerinci sebagai wilayah Sekutu Dharmasraya. Khuja Ali lebih diterima oleh masyarakat kerinci karena faktor keagamaan.

C. Walaupun dalam Naskah tertulis Denda Maling Tuak, Anjing, dan  Babi. Kita tidak bisa katakan bahwa Suku Kerinci belum Islam. Alasannya adalah sebagai berikut :
1. Tuak dalam bahasa Kerinci tidak bisa disamakan dengan Tuak yang memabukkan seperti yang kita kenal saat ini. kata Tuak  dalam bahasa Kuno Kerinci ini digunakan untuk menyebut  Air Nira Murni yang  berasal dari sadapan pohon enau atau aren,rasanya amat manis sekali dan Belum difermentasi. Air Nira ini sangat berharga sekali bagi suku Kerinci karena digunakan untuk upacara ritual, air Nira juga digunakan sebagai bahan untuk membuat gula dan sebagai bahan obat.
2. Anjing
Anjing merupakan binatang yang sering dipelihara oleh suku Kerinci bahkan sampai saat ini. Hal ini terjadi sebab Anjing dijadikan sebagai alat berburu dan melindungi padi serta Hasil pertanian suku kerinci lainnya dari Gangguan Hama Babi. Tanah Kerinci yang subur menyebabkan hampir seluruh Suku Kerinci pada abad 13 M bekerja sebagai petani dan peladang sehingga Anjing termasuk binatang Berharga untuk menjaga hasil pertanian mereka.
3. Babi
Naskah UU yang dibuat oleh Dharmasraya ini kemungkinan juga berlaku bagi daerah taklukan Dharmasraya lainnya. Dharmasraya  merupakan Penganut Agama Budha dan ada beberapa Suku yang masih menganut paham Animisme dan Dinamisme sebut saja Suku Anak dalam dan Talang Mamak yang mendiami daerah Dharmasraya dahulunya tentu Babi dihalalkan  bagi mereka. Perlu di kertahui Bahwa Naskah UUTT tidak dibuat diKerinci melainkan di Dharmasraya. Penguasa Dharmasraya tidak pernah menginjakkan kaki di Bumi kerinci tetapi hanya melalui utusannya Kuja Ali dipati kemungkinan penguasa Dharmasraya menganggap bahwa Kerinci sama dengan Kondisi diwilayah Dharmasraya yang beragam dan masih banyak yang penganut Animisme. Kata "Babi" didalam naskah adalah acuan yang amat lemah untuk menyatakan bahwa Kerinci belum Islam saat itu.


D. Kata "Allah" dan Gerak Allah di Lembar terakhir Naskah
temuan lain juga ditemukan dihalaman 33 dan 34 yang bertulis aksara Incung yang mrupakan Aksara Aseli Suku Kerinci berikut Bunyinya
halaman 33



………………………….
………………………….
………………………….
dangan mabuka ki(wa?)ka layang……….
mah……………. maka kita baca duwa …
m tujuh …………. juh kali si(?)
yang tujuh kali malam baca da-
ngan sacilas diri danga-

halaman 34

n sukacita cuci diri dan
sukacitahan hastari
kita, sahaya kita sakaliyan
sa… marabaya kita …ranak
kita barang siyapa nayapa……..
danya du…wa hini,…………..
guri hanu gara ‘allah hu-
wa huwa nallah amp



Didalam Isi naskah halaman 34 diatas terdapat kalimat "Gara'allah hu wa huwa nallah dst"  merujuk pada kata " Gerak Allah, Huwa Allah",dan bagian akhirnya tidak terbaca,menjadi bukti bahwa Suku Kerinci telah menganut agama Islam pada Abad 13 M, kemungkinan Isi naskah Halaman 33 dan 34 di buat di Kerinci dengan Menggunakan Aksara  Incung oleh pemegang Undang Undang tersebut atas perintah Depati di Kerinci. sedangkan Halaman lainnya yang menggunakan Aksara Pasca pallawa dibuat di Dharmasraya.

E. Misteri nama "Sanghyang Kemittan" yang ditulis di permulaan Naskah. 
Sanghyang Kemittan bukanlah Nama Dewa yang digunakan dalam Agama Budha ataupun Hindu. Sehingga Sanghyang Kemittan masih misteri adanya. hal ini juga dipertegas oleh peneliti Naskah UU Tanjung tanah Sendiri Uli Kozok dalam Bukunya yang berjudul "Undang-Undang Tanjung Tanah Naskah melayu tertua".

Bagaimana mungkin Suku Kerinci telah memeluk Islam sedangkan Kerajaan kerajaan besar di sekitarnya Masih kerajaan Hindu - Budha ?
Kemungkinan besar orang2 suku Kerinci menerima Islam dari pedagang Arab,Persia dan India melalui Kontak perdagangan. orang orang Kerinci telah aktif  melakukan perdagangan ke Pelabuhan pelabuhan besar terutama pelabuhan Muara Sakai di Inderapura yang notabenenya adalah Pelabuhan Besar  saat itu, dengan menempuh jalur jalur rahasia yang hanya diketahui oleh penduduk Kerinci.
Orang orang kerinci melakukan Barter secara rahasia dengan pedagang pedagang dari Arab,persia dan India, mereka menukarkan berbagai  hasil Bumi Kerinci seperti Getah kemenyan, Getah kayu Sigi, rempah rempah, Kulit Kina, gading Gajah dsb ( kebetulan pula komoditi utama yang dicari saudagar dari India, persia dan Timur Tengah,) dengan bahan bahan keperluan mereka seperti Kain Sutra ( Kain Suto), Kain Beludru (Kain Biludu), Besi, tembaga, garam dsb. dari Kontak dengan pedagang asing inilah "uhang kincai" pertama kali mengenal Islam

sedikit gambaran Orang Kerinci tempo Dulu bila pergi berdagang




kenapa Orang orang Kerinci sekitar abad 13 M melakukan perdagangan secara Sembunyi sembunyi melalui jalur2 rahasia yang hanya diketahui oleh suku Kerinci saat itu?
Hal ini dilakukan oleh nenek moyang Suku Kerinci dengan beberapa Alasan
1. Melindungi Wilayah Kerinci dari serangan kerajaan kerajaan besar di Sekitarnya seperti Malayu, Sriwijaya, Majapahit, Dharmasrya (yang akhirnya bersekutu dgn Kerinci). terutama setelah peperangan di Bukit Muara Telang Pulau Sangkar dengan Kerajaan Sriwijaya ( Sriwijaya tidak berhasil menaklukan Kerinci), Suku Kerinci makin Intensif menjaga kawasannya dari Penaklukan  dan  mengisolasi diri dari pengaruh Kerajaan besar di sekitarnya hingga beberapa abad berikutnya.
2. Tidak lain adalah untuk Menjaga Eksistensi Suku Kerinci dan segala Kebudayaannya dari pengaruh budaya budaya Asing walaupun dimasa masa Islam telah terjadi akulturasi.

Apakah Ajaran Islam di Kerinci pada Abad 13 M sama dengan Ajaran Islam yang lazim / yang dianut Suku Kerinci saat Ini ( Sunni) ?

Kemungkinan Ajaran Islam  yang dianut Masyarakat Kerinci pada abad 13 M hanya bersifat Konseptual saja, mereka saat itu hanya Mengenal Istilah Allah, Bagindo Rasulullah/Muhammad, Bagindo Ali (sayyidina Ali), Ajo Berail ( Jibrail ) dsb dan belum melaksanakan Syariat Syariat Islam. ditambah lagi Ajaran Islam yang mereka terima adalah Islam yang banyak dianut di kawasan persia dan India yang bersifat Mistik dan Sufistik. sehingga Ajaran ajaran ini dengan mudahnya diterima oleh sebagian suku Kerinci saat itu yang sebelumnya kebanyakan penganut Dinamisme dan Animisme. 
Seperti halnya Islam Kejawen di Jawa yang Lahir dari Tokoh Syeikh Siti Jenar (beberapa Riwayat menyatakan beliau berasal dari persia) dimana Islam  bercampur baur dengan Tradisi lama Jawa tanpa melakukan Ibadah sesuai ketentuan Syariat. begitu pula keadaan Islam yang dianut Suku Kerinci saat itu, mereka hanya Mengenal Allah dan Muhammad tetapi mereka masih melakukan Ritual ritual sesuai tradisi lama. Agama Islam berkembang di Kerinci terutama di Wilayah Sekitar Danau Kerinci dan selatannya pada Abad 13 M.
Pengaruh syiah juga besar dalam ajaran Islam masyarakat kerinci pada periode pertama ini,hal ini dapat dibuktikan dengan masyhurnya nama Bagindo Ali ( Sayyidina Ali bin Abi thalib) daripada sahabat nabi yang lainnya. nama Bagindo Ali juga sering terdapat dalam Mantra mantra Suku kerinci seperti dalam Mantra Sangga Bunuh, Mantra Tabin tubuh dan Tahan Jangat ( seperti dalam Pusaka Incung di mendapo Semurup terdapat nama Baginda Hali).
Kemudian kontak dengan Islam terputus sejak Abad 14-15 M sehingga Islam yang sedemikian telah mengakar dalam budaya Suku Kerinci.
Kontak suku  Kerinci dengan Dunia Islam Muncul kembali di Abad 16-19 M setelah Kerinci mengadakan Hubungan Multilateral dengan kesultanan Islam disekitarnya Seperti Indrapura, Jambi dan Minangkabau. Bahkan dalam Surat Piagam Sultan Jambi berisi seruan Kepada kepala Suku Kerinci untuk benar2 menegakkan Syara' dan meninggalkan tradisi2 lama yang bertentangan dengan Islam seperti Bertauh (Menari  antara Bujang dan Gadis yang bukan Muhrim), mengiringi mayat dengan Ratapan, nyanyian, Gung dan Kecapi, Besalih ( Melakukan Ritual terhadap arwah leluhur).
Baca Juga : Sejarah Kedatangan Islam di kerinci


Pengaruh Persia/arab dalam pakaian adat Suku Kerinci
Suku Kerinci                                                                    


                                          


Arab/persia
 







Suku Kerinci


          Arab/ Persia


Suku Kerinci

   


Arab/ Persia                                                


Dapat disimpulkan bahwa ketika Kerajaan Dharmasraya dan kerajaan kerajaan lain disekitar kerinci masih menganut agama Budha dan animism. Agama Islam Sudah dianut oleh sebagian suku Kerinci. Jadi, pada periode pertama yaitu sebelum abad 13 M, suku Kerinci telah menganut ajaran Islam yang diterima dari pedagang pedagang arab dan persia walaupun ajaran tersebut masih bercampur dengan kepercayaan lama. 
Semoga Artikelnya bermanfaat !!!





Comments

Suku Kerinci

Suku Kerinci

Popular posts from this blog

Sekilas Sejarah Perkembangan Islam di Kerinci

Oleh: Hafiful Hadi Sunliensyar

A. Masuknya Islam Ke Wilayah Kerinci

Agama Islam telah  masuk ke kawasan Kerinci sekitar  abad ke  14 M, hal ini dapat dilihat di dalam naskah Undang-undang Tanjung Tanah. Walaupun naskah undang-undang tersebut berasal dari Kerajaan Dharmasraya-Malayupura yang rajanya saat itu penganut Budha Tantrayana, namun sang raja mengirim seorang Khoja (Khwaja) sebagai diplomatnya dalam menjalin hubungan dengan para  Dipati di Silunjur Bhumi Kerinci. Pendakwah itu bernama "Kuja (Khwaja/Khoja) Ali Dipati" sebagaimana yang tertulis dalam naskah (Kozok, 2006).  Khoja atau Khawaja yang dalam tradisi Islam di India maupun Persia merupakan panggilan untuk seorang pendakwah beraliran Tasawuf/Thariqah. Dalam historiografi tradisional 'Kuja Ali Dipati' bahkan tidak diketahui dan tidak pernah disebut sebagai leluhur orang Kerinci, sebaliknya historiografi tradisional tersebut menyebut  enam orang ulama sebagai penyebar Islam di Kerinci pada periode abad 13…

Sejarah Negeri Jambi

Ikhtisar Sejarah Negeri Melayu Jambi
oleh Hafiful Hadi S

Rujukan Utama : Ikhtisar Sejarah Sepucuk Jambi Sembilan Lurah Oleh Usman Meng

Kepercayaan dan agama Suku Kerinci sebelum Masuknya Islam

Suku Kerinci  merupakan suku tertua di pulau sumatera Yang mendiami dataran tinggi kerinci termasuk kedalam Rumpun Proto Melayu,di duga berasal dari yunan dataran cina selatan. Di indonesia suku dayak,suku batak Dan Minangkabau memiliki kedekatan budaya dengan Suku kerinci.
   Sejak Ribuan tahun yang lalu suku Kerinci menganut sistem kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Dimana mereka beranggapan ada kekuatan spritual lain yang mengendalikan alam semesta. Kekuatan Lain tersebut menurut mereka adalah sebagai berikut
     1. Peri  sebagai penguasa angin dan elemen udara lainnya serta bersemayam di langit
      2. Mambang Sebagai penguasa Hujan dan elemen air serta bersemayam di Laut
ada beberapa enam mambang yang dipercaya oleh suku kerinci yaitu
Mambang bujangMambang GadihMambang PanyiwatMambang PanyangkitMambang PanjumbukMambang Panyambung       3. Dewo sebagai Penguasa hutan dan elemen tanah serta bersemayam di pegunungan atau  hutan larangan
Selain mempercayai hal tersebut,suku ke…